Manusia dan Pandangan Hidup
• Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk ciptaan ALLAH SWT yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis dan dinamis, dan bisa membatasi diri dengan perbuatan mana yang baik (posistif) atau buruk (negatif).
Selain itu dapat diartikan manusia secara umum adalah manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial, karena manusia memelukan bantuan dari orang lain.
Manusia dalam bahasa inggris disebut man (asal kata dari bahasa Ango-Saxon). Arti dasar dari kata ini tidak jelas tetapi pada dasarnya dapat dikaitkan dengan mens (latin), yang berarti “ada yang berpikir”. Demikian halnya arti kata anthropos (Yunani) tidak begitu jelas. Semula anthropos berarti “seseorang yang melihat ke atas”. Sekarang kata ini dipakai untuk mengartikan “wajah manusia“.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, manusia diartikan sebagai “makhluk yang berakal budi” (mampu menguasai makhluk yang lain). Sedangkan menurut Endang Saifuddin Anshari yang dikutip oleh Mahmud dan Tedi Priatna, manusia adalah hewan yang berfikir. Berfikir adalah bertanya. Bertanya adalah mencari jawaban. Mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Mencari jawaban tentang Tuhan, alam, manusia artinya mencari kebenaran tentang Tuhan, alam, dan manusai. Jadi, pada akhirnya manusia adalah makhluk pencari kebenaran.
Berikut diuraikan pendapat para filosof Barat tentang pengertian manusia sebagai berikut :
1. Plato memandang manusia pada hakikatnya sebagai suatu kesatuan pikiran, kehendak, dan nafsu-nafsu.
2. Aristoteles memandang manusia sebagai makhluk rasional yang memiliki kesatuan organik antara tubuh dan jasad.
3. Sartre mendefinisikan manusia sebagai “nol yang me-nol-kan” pour soi yang bukan merupakan objek melainkan subjek, yang kodratnya bebas.
Jika diihat dari segi biologis, hampir tidak dapat dibedakan antara manusia dan hewan. Perbedaan terdapat pada sisi rohani yang dimiliki manusia dan akal budinya. Dengan akal inilah manusia melahirkan kebudayaan dan peradaban. Dengan akalnya tersebut, manusia dapat berimajinasi dan memiliki tujuan.
• Pandangan Hidup
1. Pandangan Hidup
Pandangan hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau Negara. Semua perbuatan, tingkah laku dan aturan serta undang-undang harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan.
Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta akan kebenaran, sedangkan kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang mengakibatkan pandangan hidup pelu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan.
Pandangan hidup yang teguh merupakan pelindung seseorang. Dengan memegang teguh pandangan hidup yang diyakini, seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah bila menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan, serta kesulitan yang dihadapinya.
Pandangan hidup bukanlah timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus-menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidup.
Pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya, yaitu :
a. Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
b. Pandangan hidup yang berupa ideology yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada Negara tersebut.
c. Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relative kebenarannya.
Pandangan hidup pada dasarnya mempunyai unsur-unsur yaitu cita-cita, kebajikan, usaha, keyakinan/kepercayaan.
2. Cita-cita
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh seorang pada masa mendatang. Dengan demikian, cita-cita merupakan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan datang, pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin tinggi dengan perkataan lain cita-cita merupakan keinginan harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatnya.
Dalam cita-cita itu sendiri memiliki faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya cita-cita yang diinginkan yaitu :
a. Faktor manusia yang mau mencapai cita-cita ditentukan oleh kualitas manusianya. Ada orang yang berkemauan, sehingga apa yang dicita-citakan tercapai tapi akan sebaliknya bila seorang tidak ada kemauan cita-citanya hanya jadi sebuah imajinasi yang kosong. Akan tetapi cita-cita diperbolehkan setingginya tapi disertai dengan kemauan dengan niat yang tinggi.
b. Faktor kondisi yang mempengaruhi tercapainya cita-cita, pada umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar tercapai suatu cita-cita, sedangkan faktor yang menghambat merupakan kondisi yang merintangi tercapai suatu cita-cita.
c. Faktor tingginya cita-cita.
3. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.
Sebagai makhluk pribadi, manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Suara hati selalu memilih yang baik, sebab itu ia selalu mendesak orang untuk berbuat baik bagi dirinya.
Sebagai anggota masyarakat, maka seseorang juga terkait dengan suara masyarakat. Setiap masyarakat adalah kumpulan pribadi-pribadi, sebagaimana suara hati tiap pribadi selalu menginginkan yang baik.
Sebagai makhluk Tuhan, manusia pun harus mendengarkan perintah Tuhan. Perintah Tuhan selalu memerintahkan agar manusia berbuat baik dan menghindari perbuatan yang tidak baik.
4. Usaha atau Perjuangan
Usaha atau Perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap manusia harus kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha atau perjuangan, tanpa usaha atau perjuangan, manusia tidak dapat hidup sempurna. Apabila manusia bercita – cita menjadi kaya, maka ia harus bekerja keras. Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak atau ilmu maupun dengan tenaga atau jasmani bahkan dengan keduanya. Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya pemalas membuat manusia iri, miskin dan melarat bahkan menjatuhkan harkat dan martabatnya sebagai seorang manusia.
5. Etika
Istilah etika dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Yunani ethos yang berarti watak kesusilaan dan adat. Jadi, hamper sama dengan pengertian moral yang berarti cara hidup atau adat. Etika dipergnakan dalam mengkaji suatu system nilai yang ada. Sedangkan moral dipergunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai. Jadi, etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sebaiknya manusia hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan apa yang buruk; segala ucapan harus senantiasa berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan tentang peri keadaan hidup dalam arti kata seluas – luasnya.
Penentuan segala sesuatu dalam masyarakat untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Karena, norma merupakan aturan, ukuran, atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu, benar atau salah, baik atau buruk.
6. Hubungan Manusia dan Pandangan Hidup
Akal dan budi milik manusia ternyata membawa ciri tersendiri akan diri manusia itu. Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keungglan dibandingkan makhluk lain. Satu diantara keunggulan manusia tersebuat adalah pandangan hidup. Disatu pihak manusia menyadari kehidupannya lebih kompleks.
Pandangan hidup berupa suatu penggaris yang mungkin dapat dinyatakan dengan kata-kata sebagai rumusan juga dapat dikatakan rumusan: Orang yang sulit menyusun perasaan, pikiran dan kejiwaan.
Juga karena ia sendiri menyadari bahwa mungkin ia dapat berbuat atau bertindak yang melanggar prinsip-prinsip yang dikatakan.
• Contoh Kasus
Salah satu contoh kasus manusia dan pandangan hidup yakni ada seorang anak kecil yang menonton acara televisi yang memuat tentang masakan Indonesia serta masakan luar negeri dan dia melihat suatu sosok yang dia anggap luar biasa yaitu chef atau juru masak, akhirnya seiring berjalannya waktu anak tersebut mulai tumbuh dewasa dan semakin menyukai chef dikarenakan lingkungan maupun pengaruh lain. Hingga akhirnya setelah dewasa, anak tersebut memutuskan untuk menjadi seorang chef.
Jadi, tanpa disadari secara tidak langsung pandangan hidup seorang anak menentukan masa depannya untuk jadi apa dan mau apa dia nanti. Semua itu tergantung dari pandangan hidupnya, bila dia merasa bahwa pandangan hidupnya tertuju kepada apa yang dia anggap benar, maka ia akan terus melangkah sesuai apa yang diinginkan. Pandangan hidup sangat erat kaitannya dengan cita-cita.
Agar keinginan anak tersebut tercapai, maka harus di dukung oleh orang tua, keluarga maupun teman-temannya. Orang tua berperan dalam membimbing anak meraih dan mencapai cita-cita yang anak inginkan. Peran itu dapat dibuktikan dengan memfasilitasi segala keperluan anak seperti halnya memfasilitasi atau memenuhi kebutuhan pendidikan anak serta memberikan motivasi kepada sang anak.
Orang tua juga berhak membantu mengarahkan sang anak agar dapat memilih cita-cita yang sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Namun, hanya sebatas mengarahkan tidak menjuruskan anak ke cita – cita yang para orang tua inginkan. Melawan kehendak anak tentunya tidak baik bagi perkembangan mental anak,, karena dapat mengurangi rasa percaya diri serta kekecewaan mendalam yang dialami sang anak.
Tidak hanya itu saja, pandangan hidup juga harus ditanamkan sejak dini agar menjadi manusia yang bijak dan berwatak mulia. Jika tidak ditanamkan sejak dini, maka masa depannya tidak akan terlihat, tidak kuat serta kokoh dan akan hanyut terbawa oleh kerasnya arus kehidupan.
• Kesimpulan
Pandangan hidup merupakan bagaimana manusia memandang kehidupnnya. Setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda dan melahirkan suatu paham. Wujud pandangan hidup manusia berkaitan dengan cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup. Cita-cita merupakan pandangan hidup di massa yang akan datang. Dalam hal ini, tingkah laku manusia sebagai perwujudan kebajika inilah yang akan dikemukakan karena wujudnya dapat dilihat dan dirasakan. Karena tingkah laku bersumber pada pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri yang berbeda dari orang lain dan tergantung dari pembawaan, lingkungan, dan pengalaman. Dalam setiap perbuatan, manusia harus memahami etika yang berlaku dalam masyarakat, sehingga kehidupan dalam bermasyarakat menjadi tenang dan tentram.
• Daftar Pustaka
https://ariplie.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-manusia-secara-umum-menurut.html?m=1
http://sabrinahrhp.blogspot.co.id/2015/05/manusia-dan-pandangan-hidup.html?m=1
http://chandracipta.blogspot.co.id/2015/06/tugas-ilmu-budaya-dsar-3-manusia-dan_12.html?m=1
http://tykhakartika.blogspot.co.id/2013/04/peranan-pandangan-hidup-dalam-kehidupan.html?m=1
Komentar
Posting Komentar